Pekerja konbini di Jepang kini semakin banyak berasal dari tenaga kerja asing. Ternyata gak cuma pekerjaan kaigo aja yang krisis tenaga kerja!
Kalau dulu kasir atau petugas minimarket identik dengan anak muda Jepang yang bekerja paruh waktu, sekarang pemandangan itu mulai berubah. Di banyak konbini, kamu akan lebih sering bertemu pegawai dari Vietnam, Nepal, China, Indonesia, hingga berbagai negara lainnya.
Perubahan ini bukan tanpa alasan. Jepang sedang menghadapi krisis tenaga kerja di Jepang akibat jumlah penduduk usia produktif yang terus menurun. Akibatnya, minimarket yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat mulai semakin bergantung pada pekerja asing agar tetap bisa beroperasi setiap hari.
Lebih dari 110 Ribu Pekerja Asing Sudah Bekerja di Konbini
Menurut data yang dikutip The Japan Times, pada 2025 tiga jaringan konbini terbesar, yaitu 7-Eleven, Lawson, dan FamilyMart mempekerjakan lebih dari 110.000 pekerja asing.
Jumlah tersebut berasal dari sekitar 800.000 pekerja paruh waktu yang bekerja di ketiga jaringan minimarket tersebut. Artinya, sekitar satu dari tujuh pekerja paruh waktu di konbini Jepang merupakan warga negara asing.
Fakta ini menunjukkan bahwa pekerja konbini di Jepang kini bukan lagi pelengkap, tetapi sudah menjadi bagian penting dalam operasional minimarket di seluruh negeri.
Mengapa Konbini Semakin Membutuhkan Tenaga Kerja Asing?
Salah satu penyebab utamanya adalah kebutuhan tenaga kerja asing di Jepang yang terus meningkat. Pekerjaan di konbini mengharuskan pegawai bekerja dengan sistem shift, termasuk malam hari, akhir pekan, hingga hari libur. Sementara itu, jumlah anak muda Jepang yang bersedia mengambil pekerjaan seperti ini terus berkurang.
Di sisi lain, Jepang memiliki lebih dari 50.000 konbini yang setiap hari melayani masyarakat. Selain menjual makanan dan minuman, konbini juga melayani pembayaran tagihan, pengiriman paket, pembelian tiket, hingga penarikan uang tunai. Tanpa tenaga kerja yang cukup, layanan tersebut tentu akan sulit dipertahankan.
Pekerja Asing Dinilai Mampu Mengikuti Standar Jepang
Yang menarik, banyak manajer toko mengaku kualitas kerja pekerja asing semakin baik. Meski baru tinggal di Jepang, mereka dinilai cepat mempelajari bahasa Jepang, mampu mengikuti standar pelayanan pelanggan, dan bekerja dengan disiplin sesuai budaya kerja Jepang.
Hal ini membuat perusahaan semakin percaya merekrut tenaga kerja dari luar negeri untuk menjaga operasional toko tetap berjalan.
Peluang Menarik untuk Anak Muda Indonesia
Melihat kondisi tersebut, peluang bekerja di sektor ritel Jepang masih terbuka lebar. Selama memiliki kemampuan bahasa Jepang, kemauan belajar, dan etos kerja yang baik, anak muda Indonesia memiliki kesempatan untuk ikut mengisi kebutuhan tenaga kerja di sektor ini.
Karena itu, jika kamu sedang mempersiapkan diri bekerja di Jepang, jangan hanya fokus pada pekerjaan di pabrik atau konstruksi. Pekerja konbini di Jepang juga menjadi salah satu profesi yang semakin dibutuhkan dan berpeluang terus berkembang di masa depan.
Kredit Gambar: sq lim/Unsplash