Jaga sikap di apartemen Jepang adalah hal yang sering dianggap sepele oleh calon pekerja Indonesia. Padahal, bagi sebagian orang yang baru pertama kali merantau, tinggal bersama rekan kerja bisa menjadi tantangan tersendiri.
Kamu mungkin sudah siap menghadapi pekerjaan, belajar bahasa Jepang, dan beradaptasi dengan perusahaan. Namun, bagaimana kalau setelah pulang kerja kamu justru harus menghadapi masalah dengan teman satu apartemen?
Kondisi seperti ini bisa membuat kehidupan di Jepang terasa jauh lebih berat. Tempat tinggal yang seharusnya menjadi lokasi untuk beristirahat justru berubah menjadi sumber stres setiap hari.
Tidak Semua Pekerja Jepang Tinggal Sendiri
Pekerja Indonesia di Jepang terkadang mendapatkan tempat tinggal bersama rekan kerja atau sesama pekerja Indonesia. Artinya, satu apartemen bisa dihuni beberapa orang dengan kebiasaan, karakter, dan cara hidup yang berbeda.
Ada yang terbiasa bangun pagi dan langsung membersihkan rumah. Ada yang lebih santai. Ada yang suka memasak bersama, sementara yang lain lebih suka menyendiri.
Perbedaan tersebut sebenarnya bukan masalah. Masalah baru muncul ketika salah satu pihak merasa dirinya paling benar dan tidak mau menyesuaikan diri.
Dalam kondisi seperti ini, hal kecil bisa menjadi sumber pertengkaran. Mulai dari jadwal memasak, mencuci piring, membersihkan kamar mandi, sampai penggunaan fasilitas bersama.
Drama Kecil Bisa Berubah Menjadi Masalah Mental
Kalau mau bukti seberapa stress urusan apartemen dengan rekan yang tidak bisa diajak komunikasi, ada WNI yang cerita soal plus minus tinggal satu apartemen dengan orang lain:
Kalau kamu tinggal bersama orang positif pasti masih aman di Jepang. Namun, kalau satu apartemen sama orang gak tanggung jawab, apa kamu betah?
Tinggal Bersama Berarti Ada Tanggung Jawab Bersama
Saat tinggal satu apartemen, kamu harus memahami bahwa rumah tersebut bukan milik satu orang saja. Dapur digunakan bersama. Kamar mandi digunakan bersama. Ruang umum digunakan bersama. Karena itu, tanggung jawab menjaga kebersihan dan kenyamanan juga harus dipikirkan bersama.
Jangan merasa pekerjaan rumah adalah tugas temanmu. Sebaliknya, jangan juga merasa kamu harus mengatur semua orang sesuai dengan kebiasaanmu sendiri. Inilah pentingnya belajar hidup harmonis satu apartemen sebelum dan selama tinggal di Jepang.
Kalau ada aturan soal jadwal bersih-bersih, jalankan. Kalau ada pembagian tugas, lakukan sesuai kesepakatan. Hal sederhana seperti mencuci peralatan makan setelah digunakan atau membersihkan ruang bersama sebenarnya bisa membantu mencegah konflik yang lebih besar.
Harus Mau Dikritik dan Berani Berkomunikasi
Tinggal dengan orang lain berarti kamu harus siap menerima kritik. Mungkin kamu merasa kebiasaanmu sudah benar, tetapi ternyata ada hal yang membuat teman satu apartemen merasa terganggu. Dalam kondisi seperti ini, jangan langsung tersinggung.
Sebaliknya, kalau kamu memiliki masalah dengan kebiasaan temanmu, jangan langsung memendam rasa kesal. Bicarakan dengan baik. Cari waktu yang tepat. Jelaskan masalahnya tanpa langsung menyerang atau mempermalukan orang lain.
Komunikasi sederhana sering kali bisa menyelesaikan persoalan sebelum berubah menjadi drama besar. Pada akhirnya, jaga sikap di apartemen Jepang sama pentingnya dengan menjaga sikap di tempat kerja. Kamu boleh memiliki karakter dan kebiasaan sendiri, tetapi hidup bersama membutuhkan kemampuan untuk menyesuaikan diri.
Jangan sampai tempat tinggal yang seharusnya menjadi tempat beristirahat malah membuatmu semakin stres. Belajarlah bertanggung jawab, mau berkomunikasi, menerima kritik, dan menghargai orang lain. Kalau apartemen bisa menjadi tempat tinggal yang harmonis, perjalanan kerja di Jepang juga akan terasa jauh lebih nyaman.
Kredit Gambar: Cabri Caldwell/Unsplash