Kembali Ke Blog
Berita Jul 31, 2026 116 Views

Support Pemerintah pada Lansia di Jepang Diperkuat, Apakah Akan Berdampak Positif?

A
Ayaka Author
Penulis Resmi AJC
Support Pemerintah pada Lansia di Jepang Diperkuat, Apakah Akan Berdampak Positif?

Support pemerintah pada lansia di Jepang terus diperkuat seiring bertambahnya jumlah lansia yang hidup sendiri tanpa keluarga yang bisa diandalkan. Fenomena ini menjadi tantangan baru bagi Jepang, karena selama puluhan tahun sistem perawatan lansia di negara tersebut banyak bergantung pada peran anggota keluarga.

Namun, kondisi masyarakat Jepang kini telah berubah. Semakin banyak orang yang memilih tidak menikah, memiliki anak lebih sedikit, atau hidup sendiri hingga usia tua. Akibatnya, jumlah lansia yang tidak memiliki kerabat dekat terus meningkat dari tahun ke tahun.

Jumlah Lansia Tanpa Keluarga Terus Bertambah

Pemerintah Jepang memperkirakan jumlah lansia berusia 65 tahun ke atas yang tidak memiliki kerabat dekat akan meningkat dari sekitar 2,86 juta orang pada 2024 menjadi 4,48 juta orang pada 2050. Angka tersebut menunjukkan bahwa jutaan lansia berpotensi menjalani masa tua tanpa dukungan keluarga.

Kondisi lansia sebatang kara di Jepang ini menimbulkan berbagai persoalan. Tidak sedikit lansia yang mengalami kesulitan ketika ingin masuk rumah sakit, mendaftar ke fasilitas perawatan, mengurus administrasi, hingga mengatur pemakaman karena tidak memiliki keluarga atau orang yang dapat membantu proses tersebut.

Melihat perubahan demografi ini, parlemen Jepang akhirnya mengesahkan revisi undang-undang yang bertujuan memperluas sistem perlindungan bagi lansia yang hidup sendiri.

Bantuan Tidak Hanya Saat Lansia Sakit

Melalui kebijakan baru tersebut, support pemerintah pada lansia di Jepang tidak hanya berfokus pada pelayanan kesehatan. Pemerintah daerah bersama Dewan Kesejahteraan Sosial akan menyediakan layanan yang jauh lebih menyeluruh.

Bentuk bantuan bagi lansia Jepang meliputi pemeriksaan kondisi secara berkala, pendampingan saat mengurus administrasi rumah sakit atau fasilitas perawatan, bantuan mengelola keuangan harian, hingga pengurusan pemakaman dan barang peninggalan apabila lansia meninggal dunia tanpa keluarga yang dapat mengurusnya.

Bagi lansia dengan keterbatasan ekonomi, layanan tersebut juga dapat diberikan secara gratis atau dengan biaya yang lebih ringan. Pemerintah Jepang menargetkan sistem ini mulai berjalan penuh paling lambat pada Juni 2028.

Menjadi Solusi Perubahan Struktur Keluarga Jepang

Kebijakan ini menunjukkan bahwa Jepang mulai menyesuaikan sistem kesejahteraan sosial dengan kondisi masyarakat saat ini. Jika dahulu keluarga menjadi penopang utama kehidupan lansia, kini pemerintah harus mengambil peran yang lebih besar karena jumlah lansia yang hidup sendiri terus meningkat.

Selain revisi undang-undang, Jepang juga mengembangkan berbagai program pendukung, seperti pedoman bagi perusahaan penyedia jasa penjamin, program untuk mengurangi kesepian dan isolasi sosial, hingga layanan kunjungan rutin di beberapa pemerintah daerah yang sekaligus berfungsi memantau kondisi lansia yang tinggal sendiri.

Langkah tersebut diharapkan mampu memberikan rasa aman bagi masyarakat yang memasuki usia lanjut, meskipun mereka tidak lagi memiliki keluarga sebagai tempat bergantung.

Perubahan ini menjadi gambaran bagaimana Jepang berusaha beradaptasi dengan tantangan masyarakat yang semakin menua. Di tengah bertambahnya kondisi lansia sebatang kara di Jepang, kehadiran negara menjadi semakin penting untuk memastikan setiap lansia tetap memperoleh perlindungan dan layanan yang layak.

Maka dari itu, support pemerintah pada lansia di Jepang diperkirakan akan terus menjadi salah satu fokus utama kebijakan sosial negara tersebut pada tahun-tahun mendatang.

Kredit Gambar: Manny Becerra/Unsplash

Bagikan Artikel Ini