Perubahan aturan jadi penduduk tetap di Jepang mulai menjadi perhatian bagi WNI yang memiliki rencana tinggal dalam jangka panjang. Per 1 Oktober 2026, Immigration Services Agency Jepang resmi merevisi pedoman 永住許可 (eijū kyoka) atau izin tinggal permanen dengan penilaian yang lebih terperinci.
Lalu, apa yang sebenarnya berubah? Apakah orang asing sekarang semakin sulit mendapatkan status penduduk tetap?
Bukan Hanya Soal Lama Tinggal
Secara umum, ada tiga dasar utama yang tetap digunakan Jepang, yaitu perilaku yang baik, kemampuan hidup mandiri secara ekonomi, dan apakah pemberian status permanen dinilai sesuai kepentingan Jepang.
Namun, pedoman baru memperjelas berbagai faktor yang akan diperhatikan. Misalnya kondisi penghasilan, kepesertaan dan riwayat pensiun, pembayaran pajak serta kewajiban publik, lama tinggal di Jepang, kemampuan bahasa Jepang, pemahaman terhadap aturan Jepang, hingga pendidikan anak usia sekolah.
Artinya, seseorang tidak cukup hanya mengatakan, “Saya sudah lama tinggal di Jepang.” Rekam jejak selama tinggal di Jepang menjadi semakin penting.
Penghasilan, Pensiun, dan Pajak Semakin Diperhatikan
Salah satu perubahan yang paling menarik adalah penilaian terhadap kondisi ekonomi. Pedoman baru menyebut bahwa pemohon perlu memiliki kondisi ekonomi yang setidaknya berada pada tingkat yang setara dengan orang Jepang dan mampu mempertahankan kehidupan yang stabil sekarang maupun ke depan.
Penilaian juga mencakup proyeksi pensiun. Bahkan riwayat kepesertaan pensiun dan perkiraan manfaat yang akan diterima dapat diperhitungkan dalam melihat kestabilan ekonomi pemohon.
Di sisi lain, catatan pembayaran pajak dan kewajiban publik juga semakin jelas menjadi bagian dari penilaian. Karena itu, aturan tinggal permanen di Jepang makin ketat bukan berarti semua pemohon harus memiliki gaji fantastis, tetapi standar stabilitas dan kepatuhannya semakin diperhatikan.
Bahasa Jepang dan Kemampuan Beradaptasi Ikut Dinilai
Ada perubahan lain yang tidak kalah menarik. Kemampuan bahasa Jepang dan pemahaman terhadap sistem serta aturan Jepang kini secara eksplisit tercantum sebagai faktor yang dapat dipertimbangkan.
Namun, ini bukan berarti semua pemohon otomatis diwajibkan memiliki JLPT N1 atau N2. Pedoman berbicara mengenai kemampuan bahasa Jepang dan pemahaman aturan sebagai bagian dari penilaian menyeluruh.
Jepang juga mempertimbangkan apakah pemohon memahami aturan kehidupan dan pekerjaan di Jepang. Bahkan untuk orang tua yang memiliki anak usia wajib sekolah, status pendidikan anak dapat menjadi salah satu pertimbangan.
WNI yang Ingin Menetap Harus Mulai dari Sekarang
Bagi WNI yang ingin kerja di Jepang lalu suatu hari mengajukan 永住者 (eijūsha), persiapannya tidak sebaiknya baru dimulai ketika sudah mendekati masa pengajuan.
Mulailah menjaga rekam jejak sejak hari pertama. Bayar pajak dan kewajiban sosial sesuai ketentuan, ikuti sistem pensiun, hindari pelanggaran hukum, tingkatkan kemampuan bahasa Jepang, dan pahami aturan kehidupan sehari-hari.
Pedoman baru juga pada prinsipnya mempertimbangkan masa tinggal 10 tahun di Jepang, termasuk setidaknya 5 tahun dengan status tinggal yang memenuhi ketentuan tertentu. Ketidakhadiran terlalu lama dari Jepang tanpa alasan yang wajar juga dapat dinilai negatif.
Perubahan ini menunjukkan satu hal penting. Jika Jepang menjadi tempat yang ingin kamu jadikan rumah dalam jangka panjang, membangun karier saja tidak cukup. Kamu juga perlu membangun rekam jejak kehidupan yang stabil, patuh aturan, mampu beradaptasi, dan berkontribusi selama tinggal di sana.
Karena itu, perubahan aturan jadi penduduk tetap di Jepang sebaiknya dipahami bukan sebagai alasan untuk takut, tetapi sebagai pengingat bahwa rencana tinggal jangka panjang perlu dipersiapkan sejak awal.
Bagi yang ingin merasakan hidup di Jepang, gak perlu kok harus punya izin penduduk tetap. Kamu bisa ambil visa kerja dulu saja! Untuk wujudkan hal ini, Ayaka Jossei Center bisa bantu kamu untuk bekerja di Jepang!
Kredit Gambar: LARAM/Unsplash