Lowongan kaigo Jepang semakin banyak terbuka karena kebutuhan tenaga perawat lansia di Jepang terus meningkat. Menariknya, kebutuhan tersebut tidak sepenuhnya bisa dipenuhi oleh pekerja Jepang sendiri sehingga tenaga kerja asing atau WNA mulai memiliki peran yang semakin besar.
Jepang sedang menghadapi perubahan besar dalam struktur penduduknya. Jumlah lansia terus bertambah, sementara jumlah penduduk usia produktif yang bisa mengisi berbagai pekerjaan justru semakin terbatas.
Kondisi inilah yang membuat pekerjaan kaigo menjadi salah satu sektor yang sangat membutuhkan tenaga kerja baru.
Namun, mengapa regenerasi pekerja kaigo dari kalangan anak muda Jepang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut?
Kebutuhan Kaigo Terus Naik, Tapi Tenaganya Tidak Cukup
Coba bayangkan sebuah negara dengan jumlah lansia yang terus bertambah. Semakin banyak lansia berarti semakin banyak pula orang yang membutuhkan bantuan untuk aktivitas sehari-hari, mulai dari makan, mandi, berpindah tempat, sampai mendapatkan pendampingan dalam kehidupan sehari-hari.
Masalahnya, kebutuhan tersebut harus diimbangi dengan jumlah tenaga kaigo yang cukup. Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang memperkirakan Jepang membutuhkan sekitar 2,4 juta tenaga kaigo pada 2026. Angka tersebut diperkirakan meningkat menjadi sekitar 2,72 juta orang pada 2040.
Artinya, Jepang bukan hanya membutuhkan pekerja kaigo untuk hari ini. Jepang juga harus memikirkan siapa yang akan mengisi pekerjaan tersebut dalam 10 sampai 15 tahun ke depan. Di sinilah muncul persoalan regenerasi.
Alasan Anak Muda Jepang Tidak Tertarik Job Kaigo
Salah satu masalah yang sering dibicarakan dalam sektor ini adalah bagaimana membuat pekerjaan kaigo lebih menarik bagi generasi baru. Namun, penting untuk meluruskan satu hal. Tidak tepat jika dikatakan bahwa anak muda Jepang sama sekali tidak mau bekerja sebagai kaigo hanya karena gajinya kecil.
Persoalannya jauh lebih kompleks. Pekerjaan kaigo membutuhkan tenaga fisik, kesabaran, kemampuan berkomunikasi, dan kesiapan menghadapi berbagai kondisi lansia. Pekerja juga harus memiliki tanggung jawab besar karena berhubungan langsung dengan kehidupan dan keselamatan orang lain.
Di sisi lain, pekerjaan kaigo masih menghadapi tantangan dalam hal kondisi kerja, beban pekerjaan, dan daya tarik profesi dibandingkan pilihan pekerjaan lain.
Karena itu, pemerintah Jepang sendiri memasukkan peningkatan daya tarik pekerjaan kaigo, perbaikan perlakuan dan kondisi kerja, peningkatan produktivitas, serta pengembangan tenaga kerja dalam strategi mengatasi kekurangan tenaga kaigo.
Jadi, persoalannya bukan sekadar anak muda Jepang memilih kerja kantoran. Ada persaingan untuk mendapatkan generasi pekerja baru di tengah populasi usia produktif yang semakin terbatas.
WNA Ambil Job Kaigo Jepang Karena Jepang Memang Membutuhkan
Ketika tenaga kerja lokal tidak mampu memenuhi seluruh kebutuhan, Jepang tentu perlu mencari sumber tenaga kerja lainnya. Di sinilah WNA ambil job kaigo Jepang menjadi fenomena yang semakin penting.
Jepang sudah memiliki beberapa jalur resmi untuk menerima tenaga kerja asing di bidang kaigo. Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang mencatat empat jalur utama, yaitu EPA, status tinggal "Kaigo", Technical Intern Training, dan Specified Skilled Worker atau Tokutei Ginou.
Bahkan, pemerintah Jepang saat ini secara aktif menjalankan program untuk menarik tenaga kaigo asing dari luar negeri sekaligus membantu mereka agar bisa bekerja dan bertahan lebih lama di Jepang.
Artinya, masuknya WNA ke sektor kaigo bukan terjadi secara kebetulan. Ada kebutuhan nyata dari sisi Jepang.
Survei terbaru Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang juga menunjukkan bahwa alasan terbesar perusahaan Jepang mempekerjakan pekerja asing adalah untuk mengurangi atau mengatasi kekurangan tenaga kerja, yaitu sebesar 68,2 persen.
Apakah WNA Akan Ambil Alih Job Kaigo Jepang di Masa Depan?
Pekerja Jepang tetap menjadi bagian utama dari sektor kaigo secara umum. Tenaga asing justru hadir untuk membantu mengisi kekurangan yang tidak mampu dipenuhi oleh tenaga kerja domestik.
Hal ini bisa dilihat dari kebutuhan tenaga kaigo yang terus meningkat. Jika pada 2022 Jepang memiliki sekitar 2,15 juta tenaga kaigo, kebutuhan tersebut diproyeksikan mencapai 2,4 juta pada 2026 dan 2,72 juta pada 2040.
Jadi, peluang tenaga asing muncul bukan karena Jepang tidak memiliki pekerja kaigo. Peluang tersebut muncul karena kebutuhan tenaga kerja jauh lebih besar daripada kemampuan regenerasi tenaga kerja yang tersedia.
Bagi WNI, kondisi ini membuat lowongan kaigo Jepang menjadi salah satu peluang kerja yang menarik untuk diperhatikan.
Namun, peluang tersebut tetap membutuhkan persiapan. Pekerjaan kaigo bukan sekadar datang ke Jepang lalu merawat lansia.
Kemampuan bahasa Jepang, pemahaman budaya kerja, kemampuan komunikasi, pengetahuan dasar kaigo, dan kesiapan fisik menjadi bagian penting sebelum benar-benar bekerja di lapangan.
Makanya, kalau mau kerja kaigo di Jepang, kamu lebih baik latihan di tempat yang tepat seperti Ayaka Jossei Center. Pelatihan di sini sudah terstandar Jepang dan akan bawa kamu siap kerja di sana! Yuk, manfaatkan lowongan kaigo Jepang yang sekarang makin terbuka untuk WNI!
Kredit Gambar: Red John/Unsplash