Kembali Ke Blog
Berita Jul 22, 2026 92 Views

Mengapa Banyak Lansia Jepang Suka Hidup Sendiri? Ternyata Bukan Karena Sedih Kesepian Aja!

A
Ayaka Author
Penulis Resmi AJC
Mengapa Banyak Lansia Jepang Suka Hidup Sendiri? Ternyata Bukan Karena Sedih Kesepian Aja!

Lansia Jepang suka hidup sendiri menjadi fenomena yang semakin banyak dibahas dalam beberapa tahun terakhir. Kalau membahas lansia di Jepang, banyak orang langsung membayangkan mereka hidup sendirian karena ditinggal keluarga atau tidak punya teman

Anggapan itu memang ada benarnya untuk sebagian orang. Namun hasil survei terbaru justru menunjukkan ada perubahan cara pandang yang cukup menarik. Banyak lansia Jepang kini memilih melakukan berbagai aktivitas seorang diri karena merasa lebih nyaman menjalani hidup sesuai ritme mereka sendiri.

Lansia Jepang Makin Menikmati Aktivitas Sendiri

Survei Hakuhodo Institute of Life and Living terhadap masyarakat Jepang berusia 60 hingga 74 tahun menunjukkan perubahan besar selama 40 tahun terakhir.

Sebanyak 66,4% responden mengaku lebih sering menghabiskan waktu sendirian dibanding bersama teman. Bahkan, 48,6% mengatakan mereka senang pergi ke restoran atau bar seorang diri. Angka ini meningkat hampir tiga kali lipat dibanding empat dekade lalu.

Menariknya, perubahan ini tidak selalu berarti mereka merasa kesepian. Banyak lansia justru menikmati kebebasan untuk menentukan aktivitas tanpa harus menyesuaikan jadwal dengan orang lain. Fenomena lansia Jepang suka hidup sendiri juga memperlihatkan bahwa cara menikmati masa tua kini semakin mengutamakan kebebasan dan kenyamanan pribadi.

Hubungan Keluarga dan Pasangan Juga Berubah

Perubahan tersebut juga terlihat dari cara lansia memandang hubungan dengan keluarga maupun pasangan.

Keinginan untuk tinggal bersama keluarga besar turun sekitar 20,1 poin persentase dibanding tahun 1986. Sementara minat mengikuti komunitas atau kelompok hobi juga turun 19,7 poin.

Perubahan ini menjadi salah satu contoh nyata perubahan relasi lansia Jepang yang semakin mengedepankan kemandirian tanpa harus memutus hubungan dengan keluarga.

Dalam hubungan suami istri, muncul konsep yang dikenal sebagai sotsukon, yaitu tetap berstatus menikah tetapi masing-masing menjalani kehidupan dengan lebih mandiri. Survei menunjukkan 48,3% perempuan dan 30,4% laki-laki mendukung konsep tersebut.

Selain itu, keinginan memiliki hobi bersama pasangan maupun dimakamkan di makam yang sama juga terus menurun. Hal ini menunjukkan bahwa lansia Jepang semakin menghargai ruang pribadi meski tetap menjaga hubungan dengan keluarga.

Cara Menikmati Masa Tua pun Berubah Saat Tambah Umur

Perubahan ini juga dipengaruhi meningkatnya harapan hidup masyarakat Jepang. Pada 2024, harapan hidup mencapai 87,13 tahun untuk perempuan dan 81,09 tahun untuk laki-laki.

Karena hidup lebih panjang, banyak lansia merasa usia 60-an bukan lagi masa untuk berhenti menikmati hidup. Bahkan rata-rata responden baru menganggap seseorang benar-benar "lansia" saat memasuki usia sekitar 76 tahun, jauh lebih tinggi dibanding anggapan pada 1986 yang berada di kisaran 71 hingga 72 tahun.

Berbagai kegiatan lansia Jepang kini juga semakin beragam, mulai dari makan di restoran sendirian, berjalan-jalan, hingga menikmati hobi tanpa harus bergantung pada kelompok atau komunitas.

Fenomena ini menunjukkan bahwa lansia Jepang modern tidak selalu ingin bergantung pada orang lain. Mereka tetap ingin mandiri, bebas menentukan cara menikmati hari-harinya, dan menjalani masa tua sesuai pilihan sendiri.

Perubahan cara berpikir inilah yang menjadi salah satu wajah baru masyarakat Jepang di tengah usia harapan hidup yang terus meningkat, sehingga lansia Jepang suka hidup sendiri kini menjadi bagian dari perubahan gaya hidup masyarakat Jepang modern.

Kredit Gambar: Ryan Reinoso/Unsplash

Bagikan Artikel Ini