Masalah mendaki Gunung Fuji Jepang bukan hanya soal kuat atau tidak kuat mencapai puncak. Gunung setinggi 3.776 meter ini memang menjadi tujuan wisata populer, namun kondisi alamnya tetap membutuhkan persiapan seperti pendakian gunung pada umumnya.
Pada musim pendakian 2026, jalur Yoshida saja dilewati sekitar 166 ribu pendaki. Pos medis di jalur tersebut juga menangani 343 orang selama musim pendakian. Angka ini memang tidak berarti seluruhnya mengalami masalah karena kurang persiapan, tetapi menunjukkan bahwa risiko kesehatan di Gunung Fuji tetap nyata.
Fuji Bukan Sekadar Tempat Wisata
Dari foto media sosial, Gunung Fuji mungkin terlihat seperti destinasi yang mudah didatangi. Namun, cuaca di gunung dapat berubah dengan cepat dan suhu di puncak bisa sangat rendah meskipun sedang musim panas.
Pendaki juga dapat mengalami altitude sickness atau gangguan akibat ketinggian. Ketika tubuh mulai kelelahan, tidak ada kendaraan yang bisa langsung membawa pendaki turun dari jalur pendakian.
Karena itu, jalur Yoshida bahkan memiliki pemeriksaan perlengkapan. Pendaki perlu membawa pakaian hangat, jas hujan dan sepatu yang sesuai. Pendaki dengan perlengkapan yang dianggap tidak memadai dapat ditolak melewati gerbang. Jadi, kalau kamu mau mendaki, wajib ikuti aturan yang ditentukan pihak Jepang!
Kemampuan Semua Anggota Harus Diperhitungkan
Mendaki bersama rombongan juga tidak berarti kemampuan orang yang paling kuat bisa menjadi patokan.
Setiap anggota harus diperhitungkan berdasarkan stamina, pengalaman dan kondisi tubuhnya. Kecepatan perjalanan juga sebaiknya mengikuti anggota yang paling membutuhkan waktu.
Hal ini semakin penting ketika membawa anak. Anak mungkin belum mampu mengenali batas kemampuan tubuhnya sendiri sehingga orang dewasa harus lebih aktif memperhatikan kondisi mereka.
Kasus anak ditinggal orang tua saat naik Gunung Fuji pada Agustus 2026 menjadi contoh bagaimana keputusan yang keliru dapat menciptakan situasi berbahaya.
Nih ada video liputannya:
Seorang ayah meninggalkan putranya yang berusia 7 tahun di sekitar stasiun keenam setelah anak tersebut kelelahan. Sang ayah kemudian melanjutkan pendakian bersama anaknya yang lebih tua. Anak tersebut akhirnya ditemukan sendirian dan diperkirakan menunggu sekitar delapan jam.
Sang ayah kemudian mengakui bahwa keputusannya ceroboh dan meminta maaf kepada polisi. Kasus ini menunjukkan bahwa ketika salah satu anggota keluarga sudah tidak sanggup melanjutkan, rencana pendakian seharusnya ikut berubah.
Persiapan Menentukan Keselamatan
Lalu, seperti apa persiapan untuk mendaki Gunung Fuji? Mulailah dengan memilih rute dan jadwal yang sesuai kemampuan. Periksa prakiraan cuaca sebelum berangkat dan siapkan sepatu hiking, pakaian hangat, jas hujan, makanan, minuman serta perlengkapan darurat.
Latihan fisik juga penting, terutama untuk membiasakan tubuh berjalan dalam waktu lama dan menghadapi tanjakan. Jika membawa keluarga, ukur kemampuan setiap orang secara realistis dan jangan menjadikan puncak sebagai target yang harus dicapai dengan segala cara.
Jika muncul pusing, mual, kelelahan berat atau kondisi tubuh memburuk, pendakian sebaiknya dihentikan.
Pada akhirnya, masalah mendaki Gunung Fuji Jepang bukan sekadar tentang berhasil mencapai puncak, tetapi bagaimana mempersiapkan perjalanan agar seluruh anggota rombongan bisa kembali turun dengan selamat.
Kalau kamu mau merasakan mendaki Gunung Fuji dengan persiapan yang baik, kenapa gak kerja ke Jepang aja? Kalau berhasil kerja di Jepang, kamu bisa atur waktu buat liburan naik Gunung Fuji. Keren bukan? Kalau mau lancar kerja di Jepang, jangan lupa ambil pelatihan di Ayaka Jossei Center dulu!
Kredit Gambar: Zion C/Unsplash