Menolak minum senpai kerja di Jepang mungkin terasa sulit bagi WNI yang baru pertama kali bekerja di Jepang. Apalagi jika ajakan tersebut datang setelah selesai bekerja dan kamu khawatir penolakan akan membuat hubungan dengan senpai menjadi renggang.
Namun, kamu tidak harus memilih antara menjaga keyakinan dan membangun hubungan baik dengan rekan kerja. Ada cara untuk tetap menghargai ajakan senpai tanpa harus mengonsumsi alkohol.
Pahami Budaya Nomikai di Jepang
Budaya nomikai di Jepang memang sering menjadi kesempatan bagi rekan kerja untuk berbicara lebih santai setelah jam kerja. Bagi sebagian pekerja, kegiatan ini menjadi salah satu cara mengenal rekan kerja di luar suasana kantor.
Penelitian terhadap Muslim Indonesia yang bekerja di Jepang juga menemukan bahwa beberapa responden menghadapi dilema ketika diajak nomikai. Namun, ada yang tetap hadir tanpa minum alkohol demi menjaga hubungan dengan kolega.
Jadi, jangan langsung menganggap ajakan minum sebagai kewajiban untuk mengonsumsi alkohol. Bisa jadi senpai sebenarnya ingin mengajakmu berbicara dan mengenalmu lebih dekat.
Menolak Minum Senpai Kerja di Jepang dengan Sopan
Kesalahan yang sering dilakukan adalah langsung menjawab dengan penolakan singkat seperti, “Saya tidak mau.” Lebih baik sampaikan alasan dengan tenang. Misalnya:
“Sumimasen, watashi wa osake o nomanai desu. Demo, issho ni tabetari hanashitari shitai desu.” Artinya, “Maaf, saya tidak minum alkohol. Namun, saya tetap ingin makan dan mengobrol bersama.”
Cara seperti ini menunjukkan bahwa yang kamu tolak adalah minumannya, bukan ajakannya. Pengalaman pekerja Muslim Indonesia juga menunjukkan bahwa setelah menjelaskan alasan agama, rekan kerja Jepang dapat memahami kondisi tersebut. Bahkan ada kolega yang kemudian memilih restoran yang lebih ramah Muslim agar rekannya tetap bisa ikut.
Karena itu, menolak minum senpai kerja di Jepang tidak selalu berarti menolak hubungan sosial dengan senpai.
Bonding dengan Senpai Tidak Harus Minum
Kamu juga tidak harus mengikuti kebiasaan berteman orang Jepang di izakaya untuk membangun hubungan dengan senpai.
Kalau nyaman, kamu bisa datang sesekali dan memesan minuman nonalkohol seperti teh. Cara lainnya adalah mengajak senpai makan siang, makan setelah kerja di restoran yang sesuai, ngobrol sambil minum kopi, atau mengikuti kegiatan perusahaan yang tidak berhubungan dengan alkohol.
Ada pengalaman pekerja Muslim Indonesia yang tetap mengikuti nomikai dengan minuman nonalkohol. Setelah rekan kerja memahami alasannya, ia kemudian tidak selalu mengikuti acara tersebut dan hubungan pertemanan tetap berjalan.
Jadi, jangan menjauh hanya karena kamu tidak minum. Hargai ajakan senpai, jelaskan batasanmu dengan sopan, lalu cari kesempatan lain untuk membangun hubungan.
Karena pada akhirnya, menolak minum senpai kerja di Jepang bukan berarti menolak untuk berteman, tetapi menunjukkan bahwa kamu bisa beradaptasi tanpa harus meninggalkan prinsip yang kamu pegang.
Kalau kamu butuh belajar arahan interaksi di Jepang seperti ini, persiapan tersendiri tentu dibutuhkan. Nah, kalau belajar di Ayaka Jossei Center, kamu akan selalu dapat solusinya! Makanya, persiapan buat kerja di Jepang yang pas, lebih baik ikut pelatihan Ayaka Jossei Center aja!