Pernah melihat vlog orang berjalan-jalan di Jepang dan di dalam videonya banyak orang Jepang yang ikut terekam?
Di sisi lain, mungkin kamu juga pernah mendengar bahwa wisatawan tidak boleh sembarangan merekam orang di Jepang. Lalu sebenarnya mana yang benar?
Faktanya, aturan merekam di Jepang tidak sesederhana “tidak boleh merekam orang di tempat umum”. Kamu tetap bisa mengambil video suasana jalan, tempat wisata, atau keramaian. Namun, ada batasan ketika seseorang sengaja dijadikan objek rekaman atau ketika tempat tersebut memiliki aturan khusus.
Merekam Suasana Publik Berbeda dengan Menarget Seseorang
Bayangkan kamu sedang membuat vlog di sebuah jalan di Tokyo. Kamera mengarah ke jalan dan orang-orang yang berjalan kebetulan masuk ke dalam frame.
Kondisi seperti ini berbeda dengan sengaja mengikuti seseorang, mengarahkan kamera dari jarak dekat, lalu menjadikan wajahnya sebagai fokus utama video.
Mahkamah Agung Jepang pernah menjelaskan bahwa seseorang memiliki kepentingan hukum untuk tidak difoto wajah atau penampilannya tanpa alasan yang layak. Namun, apakah tindakan tersebut melanggar hak seseorang harus dilihat dari berbagai hal, seperti tempat, tujuan, cara pengambilan gambar, aktivitas orang yang direkam, dan kebutuhan perekaman.
Karena itu, merekam keramaian di ruang publik tidak otomatis menjadi pelanggaran. Yang perlu diperhatikan adalah apakah kamu sekadar mendokumentasikan suasana atau sengaja menjadikan orang tertentu sebagai objek rekaman.
Kenapa Vlogger Tetap Bisa Membuat Konten di Jepang?
Kalau merekam di tempat umum benar-benar dilarang, tentu akan sulit menemukan vlog perjalanan Jepang yang menampilkan jalan, stasiun, pasar, atau tempat wisata.
Japan National Tourism Organization sendiri menjelaskan bahwa wisatawan dapat mengambil foto di banyak tempat di Jepang, tetapi tetap perlu memperhatikan tanda larangan fotografi dan menjaga sikap ketika mengambil gambar.
Masalah lainnya adalah setiap tempat bisa memiliki aturan sendiri. Misalnya, beberapa fasilitas dapat melarang fotografi. Ada pula lokasi yang mengatur penggunaan tripod, peralatan besar, atau kegiatan fotografi yang mengganggu pengunjung lain. Shinjuku Gyoen bahkan membedakan aturan fotografi pribadi dan fotografi komersial.
Jadi, kalau ingin hati-hati buat konten di Jepang, jangan hanya bertanya “boleh merekam atau tidak?”. Perhatikan juga tanda di lokasi, arahan petugas, kondisi sekitar, dan apakah aktivitasmu mengganggu orang lain.
Lalu Bagaimana dengan Orang Jepang Merekam WNA?
Ini juga sering menimbulkan salah paham. Ketika ada WNA yang melakukan sesuatu yang dianggap tidak pantas, terkadang orang Jepang merekam WNA tersebut dan videonya kemudian beredar di media sosial. Apakah karena orang tersebut WNA, berarti siapa pun bebas merekamnya? Tidak.
Orang Jepang juga tetap harus memperhatikan hak dan kepentingan orang yang direkam. Status sebagai WNA tidak otomatis membuat seseorang kehilangan hak atas wajah dan penampilannya.
Namun, konteks perekaman tetap penting. Mendokumentasikan kejadian yang memang terjadi di ruang publik bisa memiliki pertimbangan berbeda dengan sengaja memburu seseorang, mempermalukannya, atau menyebarkan identitasnya untuk mendapatkan perhatian.
Karena itu, jangan menggunakan video orang Jepang merekam WNA sebagai alasan bahwa semua tindakan merekam pasti diperbolehkan.
Jadi, Apa yang Harus Dilakukan WNA?
Cara paling aman adalah membedakan antara merekam tempat dan menarget orang. Merekam suasana jalan, keramaian, pemandangan, atau tempat wisata dengan orang yang sekadar masuk ke latar memiliki risiko yang berbeda dari mengarahkan kamera kepada seseorang secara sengaja dan terus-menerus.
Selain itu, patuhi tanda seperti larangan fotografi, jangan menghalangi jalan, jangan memasuki area yang dilarang, dan berhenti jika petugas meminta. Beberapa fasilitas memang memiliki aturan fotografi yang lebih ketat untuk menjaga kenyamanan pengunjung.
Kalau kamu berencana tinggal di Jepang dalam waktu lama, memahami aturan seperti ini sama pentingnya dengan belajar bahasa Jepang. Bukan hanya supaya bisa bekerja, tetapi juga supaya tahu bagaimana bersikap ketika menggunakan fasilitas umum dan berinteraksi dengan masyarakat Jepang.
Karena itu, bagi kamu yang ingin mempersiapkan diri sebelum berangkat, belajar di Ayaka Jossei Center bisa menjadi salah satu langkah untuk mengenal bahasa, budaya, dan kehidupan di Jepang sejak dari Indonesia. Semakin memahami aturan dan kebiasaan di Jepang, semakin kecil kemungkinan melakukan kesalahan karena tidak mengetahui kebiasaannya.
Kredit Gambar: Yosuke Ota/Unsplash