Apa itu hari kedewasaan di Jepang? Pertanyaan ini sering muncul ketika melihat foto-foto anak muda Jepang mengenakan kimono berwarna cerah atau jas formal setiap bulan Januari. Banyak yang mengira mereka sedang menghadiri festival budaya. Padahal, momen tersebut adalah perayaan hari kedewasaan Jepang, salah satu hari raya di Jepang yang memiliki makna penting sebagai simbol memasuki fase baru dalam kehidupan.
Menariknya, meskipun Jepang telah menetapkan usia dewasa secara hukum menjadi 18 tahun sejak 2022, sebagian besar pemerintah daerah masih menyelenggarakan upacara Hari Kedewasaan bagi mereka yang berusia 20 tahun. Tradisi ini tetap dipertahankan karena usia 20 tahun masih dianggap sebagai tonggak penting dalam kehidupan masyarakat Jepang dan sudah berlangsung selama puluhan tahun.
Mengapa Hari Kedewasaan Masih Dirayakan Saat Usia 20 Tahun?
Perubahan usia dewasa secara hukum ternyata tidak langsung mengubah tradisi yang sudah lama berjalan. Banyak pemerintah daerah tetap mengundang pemuda berusia 20 tahun karena usia tersebut masih menjadi batas legal untuk mengonsumsi alkohol dan merokok di Jepang. Selain itu, sebagian besar anak muda juga sudah menyelesaikan masa sekolah atau mulai bekerja sehingga momen ini dianggap lebih tepat untuk menandai langkah menuju kehidupan dewasa.
Pada hari itu, pemerintah kota atau kabupaten biasanya mengadakan upacara resmi di aula atau gedung pertemuan. Para peserta mendengarkan sambutan dari wali kota, menerima ucapan selamat, dan diajak memahami tanggung jawab baru sebagai orang dewasa. Setelah acara selesai, banyak yang melanjutkan hari dengan berkumpul bersama keluarga, bertemu teman lama, atau mengunjungi kuil untuk berdoa sebagai bentuk rasa syukur.
Mengapa Banyak Anak Muda Memakai Kimono?
Salah satu daya tarik perayaan hari kedewasaan Jepang adalah pakaian para pesertanya. Perempuan umumnya mengenakan furisode, yaitu kimono berlengan panjang yang menjadi simbol perempuan muda. Sementara itu, laki-laki lebih banyak memakai jas formal, meski sebagian tetap memilih pakaian tradisional berupa montsuki haori hakama.
Menariknya, tidak ada aturan yang mewajibkan pakaian tertentu. Namun karena acara ini dianggap sebagai momen penting dalam hidup, mayoritas peserta memilih berpakaian formal atau mengenakan busana tradisional sebagai bentuk penghormatan terhadap acara tersebut.
Lebih dari Sekadar Memakai Kimono
Sesekali memang muncul peserta dengan gaya berpakaian yang unik hingga viral di media sosial. Namun jumlahnya sangat sedikit. Sebagian besar anak muda Jepang tetap mengikuti suasana acara dengan mengenakan pakaian yang rapi dan sopan.
Melalui perayaan hari kedewasaan Jepang, masyarakat tidak hanya merayakan bertambahnya usia, tetapi juga mengingatkan generasi muda bahwa mereka telah memasuki babak kehidupan yang baru. Jadi, ketika ada yang bertanya apa itu hari kedewasaan di Jepang, jawabannya bukan sekadar hari memakai kimono, melainkan momen penting yang menandai langkah menuju kedewasaan, tanggung jawab, dan awal perjalanan baru sebagai anggota masyarakat Jepang.
Kredit Gambar: Tsuyoshi Kozu/Unsplash